Mengapa Kita Suka Berbagi Info Meski Belum Pasti Kebenarannya?

Pernahkah kamu menerima pesan berantai dari grup keluarga tentang "makanan mengandung plastik" atau melihat teman membagikan berita heboh bangeet di media sosial sebelum memeriksa faktanya? Saya sendiri sering dapat kiriman seperti ini dari tetangga di Sengeti, lengkap dengan pesan "Tolong disebarkan!" di akhir. Rasanya kayanya ada dorongan aneh untuk langsung membagikan info itu, meski belum yakin betul kebenerannya.

Dorongan Psikologis di Balik Kebiasaan Berbagi
Menurut penelitian yang dirangkum Wikipedia Indonesia, ada beberapa alasan mengapa kita cenderung menyebarkan informasi tanpa verifikasi. Pertama, ada kebutuhan dasar manusia untuk merasa berguna dengan membagikan "pengetahuan" baru. Saat ngirim info ke grup WhatsApp, misalnya, kita seolah-olah sedang berperan sebagai sumber wawasan.
Kedua, informasi yang memicu emosi kuat—entah itu kekhawatiran, kemarahan, atau rasa takjub—lebih mudah menyebar. Saya perhatikan ini di komunitas RT tempat tinggal saya. Kabar tentang "penculikan anak" yang ternyata hoaks selalu lebih cepat beredar daripada pengumuman resmi dari kelurahan.
Efek Lingkungan Digital yang Mempercepat Penyebaran
Media sosial dan aplikasi percakapan telah mengubah cara kita mengonsumsi informasi. Dulu, berita butuh waktu untuk sampai ke masyarakat. Sekarang, dengan sekali klik, info bisa langsung menyebar ke ratusan orang. Yang menarik, platform seperti Facebook dan Instagram justru memberi reward sosial berupa likes dan komentar ketika kita membagikan konten, terlepas dari kebenerannya.
Di Sengeti, saya melihat bagaimana ibu-ibu PKK punya grup khusus untuk berbagi resep dan info kesehatan. Sayangnya, terkadang tips "obat tradisional" yang belum teruji ikut terselip di antara resep legit. Mereka bukan berniat menyesatkan, hanya kurang terbiasa memeriksa sumber sebelum berbagi.

Bagaimana Menyikapi Kebiasaan Ini?
Mulailah dengan jeda sebntar sebelum membagikan informasi. Tanyakan pada diri sendiri: "Dari mana sumber ini?" dan "Sudah ada media terpercaya yang meliputnya?" Di lingkaran pertemanan saya, kami mulai membiasakan tagar #CekDulu kalau ragu dengan suatu kabar.
Yang tak kalah penting, beri contoh baik dengan tidak serta-merta menyebarkan info sensasional. Sepekan lalu, ada kabar tentang "warga Sengeti menang undian miliaran rupiah" yang ramai di grup-grup. Alih-alih ikut menyebarkan, saya malah ngingatin teman untuk mencari konfirmasi ke kantor kelurahan. Ternyata benar, itu hanya tipuan phishing.
Kebiasaan berbagi informasi sebenarnya hal positif, asalkan disertai tanggung jawab. Perlahan tapi pasti, kita bisa membangun budaya digital yang lebih sehat—dimulai dari hal kecil seperti memverifikasi sebelum membagikan.
Selengkapnya di: sumber resmi